Beranda / Informasi / Potensi Desa
Jejak Langkah Pendahulu
Sabtu 3 Juni 2017

Ngenden – Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki ratusan suku memiliki jutaan kearifan lokal. Kearifan lokal suatu masyarakat di suatu daerah dapat dicerminkan melalui beberapa hal. Salah satunya kearifan lokal di Indonesia adalah tingginya penghormatan terhadap leluhur.

Prinsip tersebut hingga kini masih dipegang teguh oleh masyarakat desa Ngenden. Di salah satu area pemakaman desa Ngenden, terdapat sebuah makan yang disebut dengan makam Mbah Sendi. Menurut cerita masyarakat setempat, Mbah Sendi adalah orang yang pertama tinggal di desa Ngenden.

Makam Mbah Sendi terletak di tengah makam masyarakat umum. Dalam komplesk tersebut hanya terdapat empat makam yang memiliki posisi tersendiri. Makam-makam tersebut dikelilingi pagar. Makam itulah Yang disebut sebut sebagai persemayaman terakhir leluhur warga desa Ngenden.

Keempat makam tersebut merupakan makam Mbah Sendi Putri, Mbah Sendi Putra, dan kedua sahabat Mbah Sendi. Juru kunci keempat makam tersebut mengatakan tidak ada ritual khusus yang dilakukan sebagai wujud persembahan. Beberapa warga hanya datang untuk berdoa dengan cara dan kepercayaan masing-masing.

Dalam kepercayaan masyarakat Desa Ngenden, kisah Mbah Sendi kerap disandingkan dengan kisah Mbah Ende. Mbah Ende adalah seorang pendatang yang konon berasal dari Thailand. Menurut para sesepuh, Mbah Ende kala itu hendak dijodohkan dengan putri Solo yang berada di Laweyan. Mbah Ende merasa tidak cocok dengan putri tersebut  akhirnya Mbah Ende melarikan diri ke desa Ngenden.

Pelarian Mbah Ende sampai di desa Ngenden. Mbah Ende mengalami sakit parah dan akhirnya memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di sebuah tempat. Kelelahan karena perjalanan jauh, ia pun bersandar pada tongkat kayu yang selalu dibawanya. Di tempat itulah Mbah Ende meninggal. Kini tongkat tempatnya bersandar tersebut berubah menjadi sebuah pohon jambu yang sangat besar.

Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal nama dari desa Ngenden. Kata ngenden sendiri berasal dari kata semende atau dalam bahasa Indonesia berarti bersandar. Nama tersebut berdasarkan kisah Mbah Ende bersandar pada tongkatnya, saat itu pula lah ia menyadarkan hidupnya kepada sang pencipta, hingga akhirnya ia meninggal.

Menurut warga sekitar, tidak jarang terdapat hal mistis di seputaran makam tersebut. Ketika hujan dan angin kencang terjadi dahan pohon jambu air tersebut akan patah. Anehnya , patahan dahan tersebut tidak akan menimpa makam, meskipun bekas patahannya berada tepat di atas makam.

Potensi Desa Lainnya
Bukan Rezeki Paruh Waktu
Sabtu 3 Juni 2017
Jamur Pilihan Usaha Mudah
Sabtu 3 Juni 2017
Bukan Sekadar Makam
Sabtu 3 Juni 2017