Beranda / Informasi / Potensi Desa
Bukan Rezeki Paruh Waktu
Sabtu 3 Juni 2017

Ngenden - Desa Ngenden tidak hanya unggul dengan tanahnya yang subur namun juga terkenal sebagai desa penghasil lele. Lebih dari dua puluh kepala keluarga memilih berprofesi sebagai peternak lele. Para peternak tersebut sudah terorganisasi dalam sebuah kelompok paguyuban. Paguyuban yang telah bediri selama lima tahun tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan keterampilan masyarakat, melainkan mengatur pemasaran lele secara bergilir.

Salah satu warga yang tergabung dalam paguyuban tersebut Lestari. Wanita 24 tahun ini telah menekuni peternakan lele sejak satu tahun lalu di sela kegiatan utamanya sebagai ibu rumah tangga. Lestari tidak merasa kesulitan untuk memasarkannya. Terlebih dirinya telah tergabung dalam paguyuban. Para tengkulak akan datang dan membeli lele secara bergantian dari peternak satu ke peternak lainnya.

Bibit lele yang dikembangkan di Desa Ngenden berasal dari Ngampon. Bibit  tersebut dijual seharga empat ratus lima puluh ribu rupiah untuk setiap enam ribu bibit lele. Ikan berkumis ini dapat dipanen dalam waktu tiga bulan dengan berat ideal delapan ekor lele untuk setiap kilogram. Harga panen lele melonjak menjadi enam belas ribu rupiah untuk setiap kilogram jika telah memasuki panen. Lestari mampu meraih keuntungan empat ratus lima puluh ribu untuk setiap kuintal lele.

Lestari mengatakan keuntungan dari ternak lele bergantung pada kualitas bibit yang digunakan. Jika bibit berkualitas baik, maka lele akan cepat tumbuh besar dan cepat panen begitu juga sebaliknya.

Dalam perawatannya, lele harus dipisahkan berdasarkan ukurannya, agar lele yang masih kecil tidak dimakan oleh lele lainnya. Lele cukup diberi makan pada pagi dan sore hari. Jumlah pakan disesuaikan dengan berat ikan. Jumlah makanan yng diberikan harus 3% dari berat tubuhnya. Lestari akan melakukan sampling dan dikalikan dengan jumlah ikan dalam satu kolam.

Dalam menjalankan sebuah usaha, para pelakunya tidak jarang harus menemui kendala dan hambatan. Begitu juga dengan para peternak lele. Darsono, salah satu peternak lele lain mengatakan harga pakan yang tinggi menyebabkan para peternak sering kehilangan untung. Penentuan harga jual lele saat ini tidak pernah memperhitungkan tenaga kerja untuk pemeliharaan dan perawatan. Jika setiap peluh yang mereka keluarkan harus dihitung, maka dipastikan bahwa para peternak lele akan merugi.

Pria tiga puluh tujuh tahun tersebut mengatakan ia dan peternak lain belum berani menjalin kerja sama dengan pihak lain karena kuantitas lele yang diproduksi masih relatif kecil jika dipaksakan, mereka khawatir tidak bisa memenuhi target yang telah ditetapkan. Anda dapat menghubungi Darsono di nomor telepon 081225164315 jika ingin memborong lele asli Ngenden ataupun jika ingin belajar beternak lele.

Potensi Desa Lainnya
Jamur Pilihan Usaha Mudah
Sabtu 3 Juni 2017
Jejak Langkah Pendahulu
Sabtu 3 Juni 2017
Bukan Sekadar Makam
Sabtu 3 Juni 2017