Beranda / Informasi / Potensi Desa
Tugu Anjir: Pembuktian Kesaktian Masa Lalu
Sabtu 3 Juni 2017

Ngenden - Jika Anda sedang berjalan di desa Ngenden terdapat sebuah bangunan kecil dengan lebar kurang lebih dua meter. Bangunan yang berbentuk persegi dengan beratapkan genteng. Seluruh dindingnya terbuat dari tembok dan hanya ada satu pintu kayu yang menjadi jalan untuk masuk. Saat pintu tersebut terbuka, tampak sebuah tugu kecil dengan tinggi kurang lebih 50 cm. Tugu tersebut bernama Tugu Anjir.

Di samping tugu tersebut terdapat sebongkah kemenyan yang menjadi bukti banyaknya orang yang datang untuk bertapa. Salah seorang tokoh masyakarat setempat Nyoto mengatakan kehadiran para pertapa inilah yang memotivasi pemerintah desa untuk membangun area Tugu Anjir menjadi sebuah ruang untuk bertapa.

Masyarakat setempat percaya Tugu Anjir adalah saksi bisu dari kesaktian warga Ngenden di masa lalu. Asal mula dibangunnya Tugu Anjir tidak lepas dari kisah Marto Wijaya dan seorang tentara Belanda bernama De Sinje. Pada jaman penjajahan dahulu, sebagian wilayah di kecamatan Ampel adalah perkebunan karet milik pemerintah Belanda. Marto yang seorang pribumi kerap kali menebang pohon karet untuk dijadikan kayu bakar. Suatu saat, Marto hendak ditangkap dan akan dihakimi oleh De Sinje seorang warga Belanda.

Sutino Joko Purwanto, salah satu keturunan Marto Wijoyo menngatakan bahwa pada saat itu, De Sinje dan bala tentaranya menggiring Marto ke atas sebuah bukit. Wilayah tempat tentara Belanda menggiring Marto, kini disebut sebagai Girimarto. Saat ini Girimarto tersebut dijadikan sebagai area pertanian warga.

Marto yang memiliki kesaktian saat berada di atas bukit, mengutuk De Sinje menjadi patung. Badan dan tubuhnya kaku tidak bisa digerakkan. Saat itulah De Sinje meminta agar Marto mencabut kutukannya. Mereka pun membuat sebuah perjanjian. Marto akan mencabut kutukannya apabila De Sinje melepaskan hukumannya. De Sinje pun bebas dari kutukan Marto hingga akhirnya Marto kemudian diangkat menjadi seorang petinggi desa atau lurah kecil oleh De Sinje. Untuk mengenang peristiwa tersebut, warga sekitar kemudian membuat sebuah petilasan atau monumen berupa sebuah tugu yang disebut sebagai tugu Anjir.

Pria enam puluh tahun juga mengatakan hingga kini masih berhubungan dengan silsilah keluarganya. Seluruh anak cucu keturunan Mbah Marto disebut dengan Resokadang. Keluarga besar ini selalu mengadakan perkumpulan rutin pada bulan ruwah dan halal-bihalal pada hari raya idul fitri.

Potensi Desa Lainnya
Bukan Rezeki Paruh Waktu
Sabtu 3 Juni 2017
Jamur Pilihan Usaha Mudah
Sabtu 3 Juni 2017
Jejak Langkah Pendahulu
Sabtu 3 Juni 2017
Bukan Sekadar Makam
Sabtu 3 Juni 2017